Dunia pendidikan berbasis pesantren atau sekolah Islam modern kini mulai beradaptasi dengan kebutuhan zaman yang menuntut kemandirian ekonomi. Di SMP Madina School, semangat ini diwujudkan melalui program unggulan yang mencetak para pengusaha muda melalui sektor agribisnis. Dengan mengusung konsep santripreneur, sekolah ini memberikan ruang bagi para siswanya untuk mempelajari seluk-beluk dunia usaha sejak dini. Fokus utama mereka saat ini adalah mengembangkan budidaya jamur tiram, sebuah komoditas pangan yang memiliki permintaan pasar sangat tinggi namun relatif mudah untuk dibudidayakan di lingkungan sekolah.
Pemilihan komoditas jamur bukan tanpa alasan. Budidaya jamur tidak memerlukan lahan yang sangat luas dan bisa dilakukan di dalam ruangan dengan suhu yang terkontrol. Siswa diajarkan bagaimana menyiapkan baglog sebagai media tanam, menjaga tingkat kelembapan ruangan, hingga teknik sterilisasi agar jamur tidak terkontaminasi oleh bakteri atau jamur liar lainnya. Di SMP Madina School, kegiatan ini terintegrasi ke dalam kurikulum prakarya dan kewirausahaan, sehingga siswa mendapatkan nilai akademik sekaligus pengalaman praktis yang sangat berharga untuk masa depan mereka.
Menjadi seorang pengusaha jamur menuntut ketelatenan dan kejelian. Para siswa harus memantau pertumbuhan miselium secara berkala. Mereka belajar bahwa dalam bisnis pertanian, konsistensi adalah kunci utama. Jika suhu ruangan terlalu panas atau terlalu kering, pertumbuhan jamur akan terhambat. Hal ini melatih kepekaan siswa terhadap detail-detail teknis yang sering kali terabaikan. Selain itu, mereka juga diajarkan cara melakukan pemanenan yang benar agar tidak merusak media tanam, sehingga satu baglog bisa menghasilkan beberapa kali panen dalam satu siklus.
Setelah proses produksi berjalan lancar, tantangan berikutnya yang dihadapi para siswa adalah aspek pemasaran. Di sinilah mentalitas santripreneur benar-benar diuji. Mereka belajar cara melakukan branding, menentukan harga jual yang kompetitif, hingga mencari saluran distribusi yang tepat. Produk jamur dari sekolah ini tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti keripik jamur atau jamur krispi. Inovasi produk ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah (value added) sehingga keuntungan yang diperoleh bisa lebih besar dibandingkan hanya menjual jamur segar.
